ZAMAN KEEMASAN ISLAM
Diajukan Untuk Memenuhi
Tugas Mandiri
Dosen
: Edi Candra, S.Si, MA

FAUZIAH NURHANIFAH
NIM : 59461262
TARBIYAH /IPA-BIOLOGI D/SEMESTER VII
KEMENTRIAN AGAMA REPUBLIK INDONESIA
JURUSAN TADRIS IPA BIOLOGI-FAKULTAS TARBIYAH
INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI ( IAIN )
SYEKH NURJATI CIREBON
2012
- INFORMASI
BUKU
1. Pengarang
EUGENE
A. MYERS
2. Identitas
Buku
“ZAMAN
KEEMASAN ISLAM”
Para
Ilmuwan Muslim dan Pengaruhnya Terhadap Dunia Barat
Judul asli:
“ARABIC
THOUGHT AND THE WESTERN WORLD”
in the Golden Age of Islam
a. FPB
091.03
Cetakan pertama, Maret 2003
b. Penerjemah
M. Maufur el-Khoiry
c. Penyuting
Hudalloh Asmudi
d. Pracetak
Wan Dwi P.
e. Desain
Cover
Wawan Studio
f. Penerbit
FAJAR PUSTAKA BARU
JL. Purbayan No. 154, Mutihan,
Wirokerten
Banguntapan Telp./Faks. (02724) 380714
Yogyakarta 55194
BAB I
PARA PEMIKIR MUSLIM AWAL:
KARYA DAN PENGARUHYA
AL-KINDI “FILOSOF ARAB”
Al-Kindi dikenal sebagai filosof Muslim pertama, karena
dialah orang Islam pertama yang mendalami ilmu-ilmu filsafat. Hingga abad ke-7
M, filsafat masih didominasi orang Kristen Suriah. Al-Kindi tak sekedar
menerjemahkan karya-karya filsafat Yunani, namun dia juga menyimpulkan
karya-karya filsafat Helenisme. Salah satu kontribusinya yang besar adalah
menyelaraskan filsafat dan agama. Al-Kindi mampu menghidupkan paham Muktazilah. Berkat peran
Al-Kindi pula, paham yang mengutamakan rasionalitas itu ditetapkan sebagai
paham resmi kerajaan. Menurut Al-Nadhim, selama berkutat dan bergelut dengan
ilmu pengetahuan di Baitulhikmah, Al-Kindi telah melahirkan 260 karya. Di
antara sederet buah pikirnya dituangkan dalam risalah-risalah pendek
yang tak lagi ditemukan.
Karya-karya
yang dihasilkannya menunjukan bahwa Al-Kindi adalah seorang yang berilmu
pengetahuan yang luas dan dalam. Ratusan karyanya itu dipilah ke berbagai bidang, seperti
filsafat, logika, ilmu hitung, musik, astronomi, geometri, medis, astrologi,
dialektika, psikologi, politik dan meteorologi. Bukunya yang paling banyak
adalah geometri sebanyak 32 judul. Filsafat dan kedokteran masing-masing
mencapai 22 judul. Logika sebanyak sembilan judul dan fisika 12 judul. Buah pikir yang
dihasilkannya begitu berpengaruh terhadap perkembangan peradaban Barat pada
abad pertengahan. Karya-karyanya diterjemahkan ke dalam bahasa Latin dan bahasa
Eropa. Buku-buku itu tetap digunakan selama beberapa abad setelah ia meninggal
dunia.
AL-FARGHANI
Al-Farghani
(wafat 870 M), dipandang sebagai salah satu ahli astronomi terbesar yang pernah
hidup, yang berasal dari Uzbekistan. Di dunia Barat ia dikenal dengan nama
Alfraganus, ia banyak melakukan pengamatan terhadap benda-benda angkasa pada
sebuah observatorium di Bagdad, dan ia berhasil menghimpun data-data tentang
Apoge, yakni titik terjauh dan Perige, yaitu tentang titik terdekat pada
lintasan benda-benda angkasa dari Bumi.
Teorinya, "Makin
lonjong bentuk lintasannya, maka semakin besar perbedaan antara Apoge dan
Perige". Disamping itu, ia juga pernah melakukan eksperimen untuk
menentukan diameter Bumi. Salah satu karyanya yang fenomenal, adalah The
Elements of Astronomy (unsur-unsur astronomi), yang banyak membahas
tentang gerakan-gerakan benda-benda langit. Karya ini diterjemahkan dari bahasa
Arab kedalam bahasa Latin pada awal abad ke-12, yang kemudian menjadi sangat
terkenal di Eropa pada masa itu. Al-Farghani meneliti sekaligus menguji teori
Ptolemia, dan kemudian ia menyakini bahwa kualitas dari gerakan saling
mendahului dari benda langit, adalah dipengaruhi oleh planet-planet dan
bintang-bintang.
AL-KHAWARIZMI
Al-Khawarizmi dikenal sebagai
orang yang memperkenalkan konsep algoritma dalam matematika. oleh sebab itulah
konsep ini disebut Algorism/Algoritma yang diambil dari nama belakangnya.
Algoritma umumnya digunakan untuk membuat diagram alur (flowchart) dalam ilmu
komputer/informatika. Kepandaian dan kecerdasannya mengantarkannya masuk ke
lingkungan Dar al-Hukama (Rumah Kebijaksanaan), sebuah lembaga penelitian dan
pengembangan ilmu pengetahuan yang didirikan oleh Ma’mun Ar-Rasyid, seorang
khalifah Abbasiyah yang terkenal. Ia juga bekerja dalam sebuah observatory yaitu tempat belajar matematika dan
astronomi. Selain itu ia juga dipercaya untuk memimpin perpustakaan khalifah.
Beliau
telah menciptakan pemakaian Secans dan Tangen dalam penyelidikan trigonometri
dan astronomi. Dalam usia muda beliau bekerja di bawah pemerintahan Khalifah
al-Ma’mun, bekerja di Bayt al-Hikmah di Baghdad. Beliau bekerja dalam sebuah
observatory yaitu tempat belajar matematika dan astronomi. Al-Khawarizmi juga
dipercaya untuk memimpin perpustakaan khalifah. Beliau pernah memperkenalkan
angka-angka India dan cara-cara perhitungan India pada dunia Islam. Beliau juga
merupakan seorang penulis Ensiklopedia dalam berbagai disiplin. Al-Khawarizmi
adalah seorang tokoh yang pertama kali memperkenalkan aljabar dan hisab. Banyak
lagi ilmu pengetahuan yang beliau pelajari dalam bidang matematika dan
menghasilkan konsep-konsep matematika yang begitu populer yang masih digunakan
sampai sekarang.
AL-RAZI
Abu Bakar Muhammad bin Zakaria Al-Razi dikenal di barat
sebagai Rhazes. Dia adalah salah seoran Ilmuwan Iran yang hidup pada 864-930.
Al-Razi lahi di Rayy, Teheran, pada 865. Di awal kehidupannya, dia sangat
tertarik dengan seni musik. Namun, dia juga tertarik dengan ilmu-ilmu
pengetahuan lainnya sehingga kebanyakan masa hidupnya dihabiskan untuk mengkaji
kimia, filsafat, logika, matematika, dan fisika. Pada akhirnya dia dikenal
sebagai ahli pengobatan seperti Ibnu Sina, tetapi semula Al-Razi adalah seorang
ahli kimia.
Menurut sebuah riwayat yang dikutip oleh Nasr (1968), Al-Razi
meninggalkan dunia kimia karena pengelihatanya mulai kabur akibat
eksperimen-aksperimen kimia yang meletihkannya. Lalu, dengan bekal ilmu
kimianya yang luas dia menekuni dunia medis kedokteran yang rupanya menarik
minatnya ketika muda. Menurut Al-Razi, seorang pasien yang sembuh dari
penyakitnya disebabkan oleh respon reaksi kimia yang terdapat didalam tubuh
pasien tersebut. Dalam waktu yang relative cepat, Al-Razi mendirikan rumah sakit
di Rayy, sebagai salah satu rumah sakit yang terkenal sebgai pusat penelitian
dan pendidikan medis. Selang beberapa waktu kemudian, dia juga dipercaya
memimpin rumah sakit Baghdad.
Beberapa ilmuwan barat berpendapat bahwa
Al-Razi adalah penggagas ilmu kima modern. Hal ini dibuktikan dengan hasil
karya tulis dan hasil penemuan eksperimanya. Al-Razi berhasil memberikan
informasi lengkap dari beberapa rekasi kimia serta deskripsi dana desain lebih
dari dua puluh instrument untuk analisis kimia. Dia juga memebrikan deskripsi
ilmu kimia secara sederhana dan rasional. Sebagai seorang
kimiawan, Al-Razi adalah orang pertama yang mampu menghasilkan asam sulfat dan
beberapa asam lainnya bahkan penggunaan alcohol untuk fermentasi zat yang
manis.
AL-FARABI
Al-Farabi adalah seorang filosof muslim dalam arti yang
sebenarnya. Ia telah menciptakan sistem filsafat yang relatif lengkap, dan
telah memainkan peranan penting dalam perkembangan pemikiran filsafat di dunia
Islam. Ia menjadi anutan/guru dari filosof-filosof Islam sesudahnya, seperti
Ibnu Sina dan Ibnu Rusyd. Al-Farabi terkenal sebagai filosof sinkretisme yang
mempercayai filsafat. Al-Farabi berusaha meemadukan beberapa aliran filsafat
yang berkembang sebelumnya, terutama pemikiran plato dan plotinus, juga antara
agama dan filsafat . Usaha Al-Farabi diperluas lagi, bukan hanya mempertemukan
aneka aliran filsafat yang bermacam-macam, tapi ia berkeyakinan bahwa
aliran-aliran tersebut pada hakikatnya satu, meskipun berbeda-beda corak dan
macamnya . Menurutnya, tujuan filsafat itu memikirkan kebenaran, karena
kebenaran itu hanya ada satu, tidak ada yang lain.
Al-Farabi adalah orang pertama yang memberikan uraian
sistematik terhadap hirearki wujud dalam kerangka hirearki intelegensi dan jiwa
serta pemancaran (faidh)-nya dari Tuhan. Al-Farabi membagi wujud menjadi tiga
jenis berdasarkan jumlah sebabnya. Pertama, wujud keberadaannya sama sekali
tidak memiliki sebab. Al-Farabi menyebut wujud ini sebagai wujud pertama atau
sebab pertama yang merupakan prinsip tertinggi eksistensi setiap wujud lainnya.
Tentang prinsip tertinggi ini hanya terbatas pada pengetahuan tentang hal itu
dan bukan prinsip-prinsip wujudnya. Kedua, wujud yang memiliki keempat sebab
Aristetolian: material, formal, efisien, dan final. Jenis kedua ini mengacu
kepada genus-genus benda terindra, termasuk benda langit. Ketiga, wujud yang
sepenuhnya immaterial - yang lain daripada wujud benda di dalam atau menempati
benda-benda . Atas dasar tiga skema klasifikasi wujud di atas, maka pembahasan
makalah ini mengecil pada basis ontologis yang khas Faribian.
BAB II
PARA ILMUWAN MUSLIM ARAB
KESEBELASAN MASEHI
AL-BIRUNI
”Dia adalah salah satu ilmuwan terbesar dalam seluruh sejarah
manusia.” Begitulah AI Sabra menjuluki Al-Biruni-ilmuwan Muslim serba bisa dari
abad ke-10 M. Bapak Sejarah Sains Barat, George Sarton pun begitu mengagumi
kiprah dan pencapaian Al-Biruni dalam beragam disiplin ilmu. ”Semua pasti
sepakat bahwa Al-Biruni adalah salah seorang ilmuwan yang sangat hebat
sepanjang zaman,” cetus Sarton. Pada 1017 hingga 1030, Al-Biruni berkesempatan
melancong ke India. Selama 13 tahun, dia mengkaji seluk-beluk India hingga
melahirkan apa yang disebut Indologi atau studi tentang India. Di negeri
Hindustan itu dia mengumpulkan beragam bahan bagi penelitian monumental yang
dilakukannya. Dia mengorek dan menghimpun sejarah, kebiasaan, keyakinan atau
kepercayaan yang dianut masyarakat di subbenua India.
Selama hidupnya, Al-Biruni menghasilkan karya besar dalam
bidang Astronomi lewat Masudic Canon yang didedikasikan kepada putra Mahmud,
yaitu Ma’sud. Atas karyanya itu, Ma’sud menghadiahkan seekor gajah bermuatan
penuh dengan perak. Namun, Al-Biruni mengembalikan hadiah yang ditermanya itu
ke kas Negara. Sebagai bentuk penghargaan, Ma’sud juga menjamin Al-Biruni
dengan uang pension yang dapat membuatnya tenang beristirahat serta terus
mengembangkan ilmu pengetahuan.
IBNU AL-HAITHAM
Ibnu
al-Haitham dikenal sebagai cendekiawan terkemuka dalam beragam disiplin ilmu
pengetahuan, seperti ilmu falak, matematika, geometri, pengobatan dan filsafat.
Salah satu hasil karyanya dalam bidang optik yang tetap menjadi acuan hingga
saat ini, tertuang dalam Kitab al-Manazir atau Buku Optik. Beliau adalah orang
pertama yang menerangkan dengan tepat tentang bagian-bagian mata dan memberi
penjelasan secara rinci tentang proses penglihatan. Ibnu al-Haitham juga
ilmuwan pertama yang memperkenalkan prosedur pengembangan teori atau lebih
dikenal dengan metode penelitian ilmiah modern.
Ibnu al-Haitham Seorang Muslim Penemu Kamera Pertama Dunia,
penemuan al-Haitham ini jauh sebelum dunia barat mengenal kamera, Peletak
prinsip kerja kamera itu adalah seorang saintis legendaris Muslim Pada akhir
abad ke-10 M, al-Haitham berhasil menemukan sebuah kamera obscura. (the
independent). Kamera obscura pertama kali dibuat ilmuwan Muslim, Abu Ali
Al-Hasan Ibnu al-Haitham, yang lahir di Basra (965-1039 M) Maha karya
al-Haitham yang paling menumental merupakan penemuan yang sangat inspiratif ini
dilakukan al-Haithan bersama Kamaluddin al-Farisi. Keduanya berhasil meneliti
dan merekam fenomena kamera obscura.
AL-MAWARDI
Al-Mawardi terkenal
karena pemikiran politik melalui bukunya yang berjudul al-Ahkam as-Sulthaniyyah yang
dianggap sebagai buku pertama yang disusun khusus tentang pemikiran politik
Islam. Melalui makalah ini nantinya akan dijelaskan beberapa hal yang
berkaitan dengan al-Mawardi, baik tentang riwayat hidupnya, kondisi sosial
politik pada masa kehidupannya dan yang terpenting adalah teori-teori politik
dan tata negara yang dikembangkannya.
Al-Mawardi belajar fiqh dari ulama terkemuka di Basrah yaitu
Syekh ash-Shaimiri dan Syekh Abu Hamid (keduanya ahli hukum Islam). Sejak kecil
ia sangat senang mendalami fiqh khususnya yang berkaitan dengan fiqh siyasi (tata negara dan pemerintahan
Islam), setelah dewasa ia menjadi Kadi yang terkenal (karena sering
berpindah-pindah) pada masa pemerintahan Abbasiyah, al-Qadir (berkuasa 381
H/991 M-423 H/1031 M1). Karir al-Mawardi meningkat setelah ia menetap kembali
di Baghdad, yaitu menjadi hakim agung (Qadi al-Qudat), penasehat raja
atau khalifah di bidang agama (hukum Islam) dan pemerintahan. Pada masa pemerintahan khalifah al-Qadir, ia
diberi kehormatan dan diangkat menjadi duta keliling yang diutus dalam berbagai
misi diplomatik ke negara-negara tetangga. Ia memiliki pengaruh besar dalam
menjaga dan memelihara wibawa khalifah al-Qadir di Baghdad yang merosot di
tengah-tengah para raja dari Bani Saljuk dan Bani Buwaihi yang ketika itu
hampir sepenuhnya berdiri sendiri.
IBNU SINA
Ibnu
Sina atau yang dikenal dengan Avicenna adalah seorang ilmuwan, filsuf muslim,
dan dokter. Ia mempunyai nama lengkap Syeikhur Rais, Abu Ali Husein bin
Abdillah bin Hasan bin Ali bin Sina. Ia dikenal sebagai bapak pengobatan modern
karena kemahirannya sejak kecil dalam pengobatan. Ibnu Sina juga seorang
penulis yang produktif dimana sebagian besar karyanya adalah tentang filosofi
dan pengobatan. Ia dilahirkan di Persia (sekarang sudah menjadi bagian
Uzbekistan). Ibnu Sina yang berasal dari keluarga bermadzhab Ismailiyah sudah
akrab dengan pembahasan ilmiah terutama yang disampaikan oleh ayahnya. Ibnu
Sina secara penuh memberikan perhatiannya kepada aktivitas keilmuan.
Kejeniusannya membuat ia cepat menguasai banyak ilmu, dan meski masih berusia
muda, beliau sudah mahir dalam bidang kedokteran.
BAB III
PARA ILMUAN MUSLIM ABAD KEDUA BELAS MASEHI
AL-GHAZALI
Imam al-Ghazali adalah ulama yang
sangat terkenal di zamannya sampai zaman sekarang ini. Nama lengkapnya, Abu
Hamid Muhammad bin Muhammad bin Muhammad bin Ahmad At-Thusi Asy-Syafii
(pengikut mazhab Syaf'i). AlGhazali lahir 450 H/1058 M dan wafat pada tahun
505H/1111M dalam usia 55 tahun. Dalam
bukunya, Al-Ghazali memberikan kritik-kritik terhadap kepercayaan kaum Nasrani
yang bertaklid kepada akidah pendahulunya, yang keliru. Kata al-Ghazali dalam
mukaddimah bukunya: "Aku melihat pembahasan-pembahasan orang Nasrani
tentang akidah mereka memiliki pondasi yang lemah. Orang Nasrani menganggap
agama mereka adalah syariat yang tidak bisa di takwil" Imam al-Ghazali
juga berpendapat bahwa orang Nasrani taklid kepada para filosof dalam soal
keimanan. Misalnya dalam masalah al-ittihad, yaitu menyatunya zat Allah dengan
zat Yesus.
Dalam pandangan al-Ghazali, teori alittihad ini justru
membuktikan bahwa Yesus bukanlah Tuhan. Al-Ghazali menggunakan analogi mantik
atau logika. Ia berkata, ketika Yesus disalib, bukankah yang disalib adalah
Tuhan, apakah mungkin Tuhan disalib? Jadi, Yesus bukanlah Tuhan. Penjelasannya
dapat dilihat pada surat an-Nisa ayat 157: "Dan tidaklah mereka
membunuhnya (Isa AS) dan tidak juga mereka menyalibnya akan tetapi disamarkan
kepada mereka".
Selain al-ittihad, masalah al-hulul tak kalah
pentingnya. Menurut Al-Ghazali, makna al-hulul, artinya zat Allah menempati
setiap makhluk, sebenarnya dimaksudkan sebagai makna majaz atau metafora. Dan
itu digunakan sebagai perumpamaan seperti kata "Bapa" dan
"Anak". Misalnya seperti dalam Injil Yohannes pasal 14 ayat 10:
"Tidak percayakah engkau, bahwa Aku di dalam Bapa dan Bapa di dalam Aku.
Apa yang Aku katakan kepadamu, tidak Aku katakan dari diriKu sendiri tetapi Bapa
yang diam di dalam Aku, Dia-lah yang melakukan pekerjaanNya."
OMAR KHAYYAM
Omar
Khayyam adalah seorang filosuf, ilmuwan dan pelatih penting dalam Sufisme.
Namanya terkenal di dalam literatur Eropa, terutama karena Edward Fitzgerald,
yang di zaman Victoria telah mempublikasikan beberapa kwartrin Omar dalam
bahasa Inggris. Perlu dicatat, Fitzgerald seperti, hal ini perlu dicatat, banyak
para sarjana Timur lain telah membayangkan bahwa karena Omar Khayyam pada masanya
berbicara tentang pandangan-pandangan yang bertentangan secara luas, ia sendiri
adalah korban beberapa perubahan pemikiran. Sikap ini, yang merupakan
karakteristik beberapa akademisi, hanya seperti orang yang berpikir bahwa jika
seseorang menunjukkan sesuatu kepadamu, ia harus percaya; dan bila ia
menunjukkan beberapa hal kepadamu, ia harus menjadi subyek (sasaran)
identifikasi dengan hal-hal tersebut. Lebih jauh lagi, Fitzgerald sebenarnya
bersalah karena miskinnya kapasitas berpikir. Penyisipan (interpolasi)-nya
terhadap propaganda anti-Sufi dalam rujukannya tentang Omar Khayyam, tidak
dapat dimaafkan bahkan oleh pendukung-pendukung utamanya. Akibatnya, mereka
cenderung mengabaikan ketidakjujuran yang luar biasa ini, dan berteriak tentang
hal lain.
Puisi-puisi
ajaran Omar Khayyam, serta anggota lain dari sekolahnya yang akhirnya menerima
materi ini, didasarkan pada terminologi dan kiasan-kiasan (alegori) khusus
tentang Sufisme. Sebuah investigasi dan penerjemahan utuh telah dikerjakan oleh
Swami Govinda Tirtha tahun 1941, diterbitkan dengan judul The Nectar of Grace. Buku
ini sebenarnya merupakan kata akhir pertanyaan mengenai makna materi (sejauh
hal itu dapat diubah urutannya dalam bahasa Inggris). Menarik untuk dicatat,
bahwa beberapa (tidak banyak) para sarjana Barat telah memanfaatkan karya
esensial ini dalam eksposisi mereka tentang Omar Khayyam. Akibatnya, adalah
bahwa secara efektif Omar Khayyam tetap dikenang tetapi tidak terkenal.
IBNU TUFAIL
Nama lengkapnya adalah Muhammad Bin Abdul Malik, dengan gelar
Abu Bakar dan dinisbahkan kepada bani Qois. Dia dilahirkan di desaوادى أش cadix
Granada Andalus, adapaun tanggal kepastian dari kelahirannya tidak begitu
diketahui secara pasti, namun para ahli penghubung sejarah memberitakan
kelahiran Ibnu Tufail pada abad ke-6 H, dan dalam buku Filsafat Islam,
Prof. Dr. Sirajuddin Zar menulis bahwa kelahiran Ibnu Tufail pada tahun
506/1110 M.
Disisi lain latar belakang sejarah dari Ibnu Tufail hampir
sulit dijumpai, demikian juga dengan para guru-gurunya dan perjalanan dalam
mencari ilmu pengetahuan, dugaan kuat dia pernah belajar di Secville karena
kota tersebut merupakan pusat kegiatan keilmuan terbesar di Andalus pada sat
itu. Ada yang mengatakan Ibnu Tufail mempelajari ilmu kedokteran di Granada dan
ada pula yang mengatakan dia murid dari Ibnu Majjah, tapi dia sendiri mengaku
tidak pernah bertemu dengan filosof itu. Jadi selain menjadi filosof, Ibnu
Tufail juga terkenal dengan bidang kedokteran, matematika dan penyair, dimana
lewat karir dokternya dia menaiki tangga kesekretariatan Gubernur Ceuta dan
Tangier putra Abdul Mu’min, penguasa Daulah Muwahhidun Spayol
pertama yang merebut Marocco pada tahun 542 H yang kemudian menjabat sebagai
dokter tinggi dan menjadi Qodhi di pengadilan khalifah Abu
Ya’qub Yusuf (558-580 H). Pada tahun 578 H Ibnu Tufail mengundurkan diri dari
jabatannya karena merasa sudah tua dan lemah dan berdasarkan sarannya juga,
jabatan dokter istana diserahkan oleh penguasa Daulah Muwahidun
kepada Ibnu Rusdy. Tiga tahun setelah itu, Ibnu Tufail wafat dan pemakamannya
dihadiri oleh penguasa dan pembesar Daulah Muwahhidun.
Berpijak pada jabatan terakhir inilah Ibnu Tufail mendapat
kesempatan Penuh untuk mengembangkan filsafatnya, tapi sayang hanya sedikit
sekali karya-karyanya yang sampai ke kita selain Hayy Ibn Yaqzhan.
karya ini merupakan suatu roman filsafat pendek, namun memberikan pengaruh yang
begitu besar sehingga karya tersebut dianggap sebagai salah satu buku yang
paling mengagumkan. Hal ini terbukti dengan banyaknya buku ini yang
diterjemahkan kedalam bahasa Ibrani, Latin, Inggris, Belanda, Prancis, Spayol,
Jerman, Rusia, hingga pada zaman modern pun minat terhadap karya ini masih
tetap ada. Ahmad Amin menerbitkan dalam edisi bahasa arab, yang diikuti
terjemahaannya pada bahasa Persi dan Urdu.
IBNU RUSHD
Diantara
para filosof Islam, Ibnu Rusyd adalah salah seorang yang paling dikenal dunia
Barat dan Timur. Nama lengkapnya Abu al-Walid Muhammad ibnu Ahmad Ibnu Muhammad
ibnu Ahmad ibnu Ahmad ibnu rusyd, lahir di Cordova, Andalus pada tahun 520 H/
1126 M, sekitar 15 tahun setelah wafatnya abu Hamid al-Ghazali. Ia ditulis
sebagai satu-satunya filsuf Islam yang tumbuh dan berkembang dalam keluarga
yang semuanya menjadi fuqaha’ dan hakim. Ayahnya dan kakeknya
menjadi hakim-hakim agung di Andalusia. Ibnu Rusyd sendiri menjabat hakim di Sevilla
dan Cordova pada saat terjadi hubungan politik yang penting antara Andalusia
dengan Marakasy, pada masa Khalifah al-Manshur. Hal itu mencerminkan kecerdasan otak dan ghirah kepada ilmu pengetahuan dalam keluarga
ini sudah tumbuh sejak lama yang kemudian semakin sempurna pada diri ibnu
Rusyd. Karena itu, dengan modal
dan kondisi ini ia dapat mewarisi sepenunya intelektualitas keluarganya dan
menguasai berbagai disiplin ilmu yang ada pada masanya.
Tidak
hanya seorang ilmuan terpandang, ia juga ikut ke medan perang melawan Alphonse,
raja Argon. Khalifah begitu menghormati Ibnu Rusyd melebihi penghormatannya
pada para pejabat daulah al-Muwahhidun dan ulama-ulama yang ada masa itu. Walau
pun demikian Ibnu Rusyd tetap menjadi orang yang rendah hati, ia menampilkan
diri secara arif selayaknya seorang guru dalam memberi petunjuk dan pengajaran
pada umat. Hubungan dekat dengan
Khalifah segera berakhir, setelah Khalifah menyingkirkannya dari bahagian
kekuasaan di Cordova dan buku-buku karyanya pernah diperintahkan Khalifah untuk
dimusnahkan kecuali yang berkaitan dengan ilmu-ilmu murni saja. Ibnu Rusyd
mengalami hidup pengasingan di
Yasyanah. Tindakan Khalifah ini menurut
Nurcholish Madjid, hanya berdasarkan perhitungan politis, dimana suasana tidak
kondusif dimanfaatkan oleh para ulama konservatif dengan kebencian dan
kecemburuan yang terpendam terhadap kedudukan Ibnu Rusyd yang tinggi.
BAB IV
IBNU ARABI:
FILOSOF SUFI DAN PEMIKIRAN FILSAFAT MISTISNYA
Ibnu Arabi lahir di Murcia,
Andalusia, Spanyol, 17 Ramadan 560H/28 Juli 1165 M dan beliau wafat di Damaskus, 28 Rabiulawal 638 H/16 November
1240 M.
Ibnu Arabi adalah seorang sufi dan pemikir mistik terbesar dunia islam. Nama
lengkapnya adalah Muhiddin Abu Abdullah Muhammad bin Ali bin Muhammad bin Ahmad
bin Abdullah Hatimi at-ta’i. Nama ini dibubuhkan oleh Ibn
‘Arabi dalam Fihrist (katalog
karya-karyanya). Orang-orang sezamannya, khususnya Ṣadr al-Din al-Qunawi
memanggilnya Abu ‘Abd Allah. Banyak penulis pada umumnya
menyebut dia rebagai Ibn ‘Arabi.
Selama menetap di Sevilla, Ibn ’Arabi muda sering melakukan
perjalanan ke berbagai tempat di Spanyol dan Afrika Utara. Kesempatan itu dimanfaatkannya
untuk mengunjungi para sufi dan sarjana terkemuka. Salah satu kunjungannya yang
sangat mengesankan ialah ketika berjumpa dengan Ibn Rusyd (w. 595 H) di
Kordova. Ibn ’Arabi dikirim oleh ayahnya untuk bertemu dengan filosof
besar Ibn Rusyd yang berasal dari keluarga yang sangat terpandang di Kordova.
Ibn Rusyd, dari semua tokoh abad pertengahan Spanyol, mungkin orang yang paling
terkenal di Eropa, sebab ia memperkenalkan kembali karya-karya Aristoteles astronomi,
meteorologi, pengobatan, biologi, etika dan logika dan ulasan-ulasannya
berpengaruh luar biasa terhadap Eropa ketika orang-orang Eropa kemudian
menemukan kembali Aristoteles.
Percakapan Ibn ’Arabī dengan filosof besar ini membuktikan
kecemerlangan yang luar biasa dalam wawasan spiritual dan intelektual.
Perecakapan tersebut menjelaskan perbedaan dan pertentangan asasi antara jalan
akal logis dan jalan imajinasi gnostik. Fakta bahwa sufi muda ini mengalahkan
filosof peripatetik itu dalam tukar pikiran tersebut dengan tepat menunjukkan
titik puncak pemikiran filosofis dan pengalaman mistik Ibn ’Arabī yang
memperlihatkan bagaimana mistisisme dan filsafat berhubungan satu sama lain
dalam pemikiran metafisikanya. Pengalaman-pengalaman visioner mistiknya
berhubungan erat dan disokong oleh pemikiran filosofisnya yang ketat. Ibn
’Arabī adalah seorang mistikus yang sekaligus seorang guru filsafat
peripatetik, sehingga ia bisa memfilsafatkan pengalaman spiritual batinnya
secara tepat ke dalam suatu pandangan dunia metafisis yang sangat kompleks.
BAB V
IBNU KHALDUN:
IDE-IDE DAN PENGARUH PEMIKIRANNYA
Lelaki
yang lahir di Tunisia pada 1 Ramadan 732 H./27 Mei 1332 M. adalah dikenal
sebagai sejarawan dan bapak sosiologi Islam yang hafal Alquran sejak usia dini.
Sebagai ahli politik Islam, ia pun dikenal sebagai bapak Ekonomi Islam, karena
pemikiran-pemikirannya tentang teori ekonomi yang logis dan realistis jauh
telah dikemukakannya sebelum Adam Smith (1723-1790) dan David Ricardo
(1772-1823) mengemukakan teori-teori ekonominya. Bahkan ketika memasuki usia
remaja, tulisan-tulisannya sudah menyebar ke mana-mana. Tulisan-tulisan dan
pemikiran Ibnu Khaldun terlahir karena studinya yang sangat dalam, pengamatan
terhadap berbagai masyarakat yang dikenalnya dengan ilmu dan pengetahuan yang
luas, serta ia hidup di tengah-tengah mereka dalam pengembaraannya yang luas
pula.
Selain itu dalam tugas-tugas yang diembannya penuh dengan
berbagai peristiwa, baik suka dan duka. Ia pun pernah menduduki jabatan penting
di Fes, Granada, dan Afrika Utara serta pernah menjadi guru besar di
Universitas al-Azhar, Kairo yang dibangun oleh dinasti Fathimiyyah. Dari
sinilah ia melahirkan karya-karya yang monumental hingga saat ini. Nama dan
karyanya harum dan dikenal di berbagai penjuru dunia. Panjang sekali jika kita
berbicara tentang biografi Ibnu Khaldun, namun ada tiga periode yang bisa kita
ingat kembali dalam perjalan hidup beliau. Periode pertama, masa dimana Ibnu
Khaldun menuntut berbagai bidang ilmu pengetahuan. Yakni, ia belajar Alquran,
tafsir, hadis, usul fikih, tauhid, fikih madzhab Maliki, ilmu nahwu dan sharaf,
ilmu balaghah, fisika dan matematika.
Setelah keluar dari penjara, dimulailah periode ketiga
kehidupan Ibnu Khaldun, yaitu berkonsentrasi pada bidang penelitian dan
penulisan, ia pun melengkapi dan merevisi catatan-catatannya yang telah lama
dibuatnya. Seperti kitab al-’ibar (tujuh jilid) yang telah ia revisi dan
ditambahnya bab-bab baru di dalamnya, nama kitab ini pun menjadi Kitab al-’Ibar
wa Diwanul Mubtada’ awil Khabar fi Ayyamil ‘Arab wal ‘Ajam wal Barbar wa Man
‘Asharahum min Dzawis Sulthan al-Akbar. Karena pemikiran-pemikirannya yang
briliyan Ibnu Khaldun dipandang sebagai peletak dasar ilmu-ilmu sosial dan
politik Islam. Dasar pendidikan Alquran yang diterapkan oleh ayahnya menjadikan
Ibnu Khaldun mengerti tentang Islam, dan giat mencari ilmu selain ilmu-ilmu
keislaman. Sebagai Muslim dan hafidz Alquran, ia menjunjung tinggi akan
kehebatan Alquran. Sebagaimana dikatakan olehnya, “Ketahuilah bahwa pendidikan
Alquran termasuk syiar agama yang diterima oleh umat Islam di seluruh dunia
Islam. Oleh kerena itu pendidikan Alquran dapat meresap ke dalam hati dan
memperkuat iman. Dan pengajaran Alquran pun patut diutamakan sebelum
mengembangkan ilmu-ilmu yang lain.”
Jadi, nilai-nilai spiritual sangat di utamakan sekali dalam
kajiannya, disamping mengkaji ilmu-ilmu lainnya. Kehancuran suatu negara,
masyarakat, atau pun secara individu dapat disebabkan oleh lemahnya nilai-nilai
spritual. Pendidikan agama sangatlah penting sekali sebagai dasar untuk
menjadikan insan yang beriman dan bertakwa untuk kemaslahatan umat. Itulah
kunci keberhasilan Ibnu Khaldun, ia wafat di Kairo Mesir pada saat bulan suci
Ramadan tepatnya pada tanggal 25 Ramadan 808 H./19 Maret 1406 M.
BAB VI
TRANSLASI ILMU PENGETAHUAN KE DALAM
DUNIA ISLAM (650-1000 M)
Pada
periode klasik paruh pertama masa kemajuan (650-1000 M), wilayah kekukasaan
Islam meluas melalui Afrika Utara (Aljazair dan Maroko) sampai ke Spanyol di
Barat (Harun Nasution, 1975: 12 dalam Abudin Nata, 2010). Spanyol adalah nama
baru bagi Andalusia zaman dahulu. Nama Andalusia berasal dari suku yang
menaklukkan Eropa Barat di masa lalu (Ensiklopedi Islam, 1999: 145 dalam Abudin Nata, 2010)
sebelum bangsa goth dan Arab (Islam).
PERIODE
650-800 M
Severus Sebokht, pendeta biara Qen-Neshre di Upper Euphrates
yang terkenal sekitar tahun 650 M adalah seorang ahli sains dan filosof. Di
bawah kepemimpinannya, biara menjadi salah satu pusat utama dari pengetahuan
Yunani. Banyak dari pengetahuan Yunani dan mungkin juga Hindu yang ditransmisikan
kepada bangsa Arab melalui usaha-usahanya. Ia memiliki keyakinan, sebuah
keyakinan yang tidak lazim pada masanya, bahwa kemajuan ilmu pengetahuan
haruslah berjalan di atas alas internasional.
Khalid ibn Yazid ibn Murawiya, seorang penguasa Umayyah dan filosof
dianggap sebagai orang yang mendorong para sarjana Yunani di Mesir untuk
menerjemahkan buku-buku Yunani ke dalam bahasa Arab. Peristiwa ini merupakan
proses penerjemahan pertama yang terjadi dalam dunia Islam. Ibnu Yazid hidup di
Mesir dan meninggal antara tahun 704-708 M.
PERIODE 800-900 M
Al-Makmun, penguasa Bagdad (786-833 M), khalifah ketujuh dan
mungkin juga khalifah Abbasiyah terbesar (813-833), merupakan pemrakarsa
pengetahuan dan karya-karya ilmiah melebihi Harun al-Rasyid serta menjadikan
pencarian dan penerjemahan manuskrip-manuskrip Yunani sebagai tujuan hidupnya,
bahkan ia mengirim sebuah misi kepada raja Byzantium, Leon De Armenia, demi
tujuan hidupnya itu. Al-Makmun mengundang, menerjemahkan dan mendukung para
sarjana Yahudi dan Kristen untuk menerjemahkan manuskrip-manuskrip Yahudi itu
ke dalam bahasa arab. Ia juga mendirikan perpustakaan Bait Al-Hikmah (house of wisdom),
akademi ilmu pengetahuan, serta membangun sebuah pusat penelitian berdasarkan
usulan ratu Palmyra. Selama masa kekuasaannya, beratus-ratus manuskrip telah
diterjemahkan dari bahasa Yunani ke dalam bahasa Arab.
PERIODE 900-1000 M
Masa keemasan penerjemahan dari bahasa yunani ke bahasa arab
terjadi pada abad kesembilan. Kaum muslim menjadi alat ukur standar bagi peradaban,
yang sebagian besar dikarenakan banyaknya karya-karya yang telah diterjemahkan
ke dalam bahasa arab. Lihatlah metode-metode penerjemahan yang dipakai,
kuantitas dan kualitas karya-karya yang diterjemahkan selama periode tersebut,
dan institusi-institusi yang secara khusus didesain sebagai pusat-pusat
penerjemahan. Pada abad
kesembilan Bagdad benar-benar menjadi pusat ilmu pengetahuan.
Penerjemahan-penerjemahan yang telah dihasilkan selama 900 tahun menjadi
anti-klimaks bagi karya-karya yang ditulis selama ratusan tahun sebelumnya.
Teks-teks Yunani klasik dalam bidang matematika dan medis telah selesai
diterjemahkan. Akan tetapi, antara periode 900-1000 tahun bukan berarti tidak
ada aktivitas atau usaha-usaha yang terorganisir untuk mengembangkan karya-karya
terjemahan. Aktivitas itu terus ada walaupun intensitasnya agak menurun.
Kontribusi yang diberikan oleh para ilmuwan arab dan kaum
muslim Persia memiliki arti yang signifikan. Mereka mendapatkan dukungan yang
besar dalam kegiatan penerjemahannya, dalam pendirian pusat-pusat penerjemahan
dan dalam pengamanan manuskrip-manuskrip Yunani.
BAB VII
TRANSLASI ILMU
PENGETAHUAN DAN PENGARUHNYA
TERHADAP
DUNIA BARAT
Filsafat Barat adalah sebutan yang digunakan untuk pemikiran-pemikiran filsafat dalam dunia Barat atau Occidental. Pada umumnya
filsafat terdiri dari dua garis besar, yaitu Filsafat Barat dan Filsafat Timur.
Filsafat Barat berbeda dengan Filsafat
Timur atau Oriental. Permulaan dari sebutan Filsafat Barat ini dari
keinginan untuk mengarah kepada pemikiran atau falsafah peradaban
Barat. Masa awalnya dimulai dengan filsafat Yunani di Yunani Kuno. Pada
masa ini sebagian besar Bumi sudah dicakup, termasuk Amerika Utaradan Australia. Penentuan
wilayah yang menjadi bagian dalam menentukan aliran mana sebuah pemikiran atau
falsafah itu lahir menimbulkan perdebatan. Perdebatan terjadi untuk menentukan
wilayah seperti Afrika Utara, sebagian besar Timur Tengah, Rusia, dan lainnya.
Kata filsafat dalam bahasa Indonesia, filosofi dalam
bahasa Inggris, berasal dari bahasa Yunani kuno, yaitu: philosophia, yang
secara literal bermakna, "kecintaan kepada perkataan" (philein =
"mencintai"+Sophia = kata mutiara, dalam arti pengetahuan). Dalam
arti kontemporer, Filosofi Barat merujuk pada dua tradisi utama
filsafat kontemporer: filsafat
analitik dan filsafat kontinental.
Pada umumnya, filsuf-filsuf Barat dibagi ke dalam beberapa cabang
pokok. Pembagian itu di dasarkan pada jenis pertanyaan yang diajukan oleh
orang-orang yang bekerja di lapangan. Cabang yang paling banyak berpengaruh
pada masa dunia kuno adalah Stoic, yaitu menahan hawa nafsu. Stoic dibagi ke
dalam beberapa bagian filsafat, seperti Logika, Etika, Ilmu pengetahuan, dan
Fisika. Fisika merupakan konsep study tentang gejala-gejela alam di dalam dunia
ini, dan termasuk ilmu pengetahuan alam dan metafisika. Filsafat kontemporal
secara umum dapat dibagi ke dalam metafisika, epistimologi, etika, axiology,
dan estetis. Logika terkadang juga dijadikan sebagai bagian di dalam filsafat,
terkadang juga hanya sebagai metode yang digunakan untuk seluruh cabang-canbang
filsafat.
Sub disiplin filsafat terdapat di dalam cabang-cabang yang luas
tersebut. pada level yang terluas, terdapat filsafat Analitik dan filsafat
Kontinental. Filsafat Analitik lebih sederhana dibandingkan denga filsafat
Kontinental. Sub disiplin ini terkadang menjadi topik yang hangat dan dapat
menempati temapat yang banyak dalam tulisan-tulisan. Hal ini disebabkan oleh
orang-orang yang beranggapan bahwa sub disiplin ini sebagai cabang-cabang
utama.
BAB VIII
PROSES TRANSLASI DAN MUNCULNYA
PERADABAN BARAT:
SEBUAH KESIMPULAN
Sigifikasi cultural dari karya-karya para ilmuan muslim dan
para penerjemah bagi perkembangan ilmu pengetahuan alam dan humaniora tidak
dapat dipandang sebelah mata. Pada saat yang sama, karya terjemahan ini
mengantarkan Arab pada puncak kepemimpinan
cultural pada abad pertengahan. Itulah factor satu-satunya yang
menyebabkan mereka meraih keberhasilan yang spektakuler. Kemenangan-kemenangan
militer mereka yang menakjubkan tidak dapat menghasilkan apa-apa kecuali
ketakutan dan penundukan, sebuah keadaan yang tidak kondusif untuk meraih
keberhasilan-keberhasilan atau kemajuan cultural.
Ketika dunia barat menyadari bahwa mereka membutuhkan ilmu
pengetahuan untuk menyaingi dan menyamai islam serta untuk memenuhi
aspirasi-aspirasi mereka sendiri, maka mereka berusaha mentransfer pegetahuan
Arab-Yunani dengan menerjemahkannya ke dalam bahasa latin atau bahasa lainnya.
- KOMENTAR
1.
Kelebihan
Buku ini merupakan bacaan scholar, maksudnya
buku untuk akademisi. Buku ini dapat dipakai sebagai referensi dalam penelitian dan juga
sebagai bahan perbandingan pemikiran atau pandangan. Setelah
saya membaca dan merangkum buku ini, saya dapat mengetahui lebih dalam para
ilmuan muslim pada Zaman Keemasan Islam. Kata-kata yang digunakannya mudah
dipahami, sehingga tidak terlalu sulit untuk dimengerti.
2.
Kelemahan
Karena buku ini merupakan buku terjemahan
sehingga banyak kosa kata yang tidak baku serta terdapat rangkaian kalimat yang
tidak baku sehingga kita harus teliti dalam membacanya dan Sistematika
penulisannya kurang rapih.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar